Monday, June 11, 2012

Belum Ada Judul....

sebelum kau petik dawai gitar ini..
sudahkah kau pergi ke titik temu itu?
sebelum alunan nada mengalun indah..
tak bisakah kau menanam benih itu?
dan sebelum syair-syair lagu itu..
menyayat setiap jiwa..
tak mampukah kau melangkah bersama?
....
kalimat itu menjadi lamunan agungku..
lalu di mana kau?
paras itu mengusik pikiranku..
karenanya, aku tak mampu menyudahi..
detik-detik kenangan ini..
....
kawan..
seperti apa hidup itu?
....

Thursday, May 10, 2012

Metode Resistivitas (Resistivitas Semu)

Pernah kita dengar lagunya ungu yang bayang semu? tentu pernah lah. Tapi tahu gak kalau di metode resistivitas juga ada yang semu-semu. Di dalam metode resistivitas ada sebuah istilah yang menyatakan bahwa "nilai resistivitas semu". Nilai apa itu? 
Nilai resistivitas semu itu adalah nilai resistivitas pengukuran, jadi kalau kita mengukur menggunakan metode geolistrik resistivitas di lapangan, data yang kita bawa pulang adalah data resistivitas semu, yang harus diolah dahulu sampai menjadi data resisitvitas sebenarnya, penyebabnya adalah bumi yang berlapis, sedangkan pada teori, diasumsikan bumi ini satu lapisan saja. Secara teoritis, berdasarkan hokum ohm diketahui bahwa besar hambatan listrik suatu material bergantung  pada kuat arus I, tegangan V  yang dirumuskan sebagai berikut :
V=IR
Menurut bu Prasetiawati (2004), beberapa hal yang mempengaruhi nilai resistivitas semu adalah sebagai berikut:
  • Ukuran butir penyusun batuan, semakin besar butir maka kelolosan arus akan semakin baik, sehingga mereduksi nilai tahanan jenis.
  • Komposisi mineral dari batuan, semakin meningkat kandungan mineral clay akan mengakibatkan menurunnya nilai resisivitas.
  • Kandungan air, air tanah atau air permukaan merupakan media yang mereduksi nilai tahanan jenis.
  • Kelarutan garam dalam air di dalam batuan akan mengakibatkan meningkatnya kandungan ion dalam air sehingga berfungsi sebagai konduktor.
  • Kepadatan, semakin padat batuan akan meningkatkan nilai resistivitas.
Nah, sudah agak gamblang belum? saya harap sudah, kalau belum,langsung aja baca buku shallow of subsurface, disitu dijelaskan lebih gamblang.

Referensi:
Prasetiawati, lukei. 2004. Aplikasi metode resistivitas dalam eksplorasi Endapan laterit nikel serta studi perbedaan Ketebalan endapannya berdasarkan morfologi Lapangan: Penelitian Lapangan. Jakarta : FMIPA  Universitas Indonesia.


Friday, January 6, 2012

Metode Magnetotelurik (Part 2)

Wah..lama sudah tidak posting tentang geofisika. Okelah, kita belajar lagi dan lagi tentang geofisika. meneruskan materi yang lalu tentang metode magnetotelurik. Sebenarnya bagaimana sih konsep dari metode magnetotelurik (Magnetoteluric Method) itu?
Kemarin (tepatnya beberapa bulan lalu) sudah dikatakan kalau Metode Magnetotelurik itu merupakan salah satu metoda eksplorasi geofisika yg memanfaatkan medan elektromagnetik (kita singkat EM saja) yang berada di alam. Mungkin sudah banyak yang mengerti tentang medan EM yang ada di alam. Ya, medan EM yang ada di alam erat hubungannya dengan listrik dan magnet. Medan EM yang berada di alam kita, menurut para ahli berasal dari berbagai proses yang cukup kompleks.Spektrum frekuensinya bisa sangat lebar dari 0.00001 Hz – 100 kHz. Ketika berada pada frekuensi yang rendah, yaitu < 1 Hz, maka partikel-partikel bermuatan yang berasal dari matahari dapat berinteraksi dengan medan magnet permanen bumi, dari sini akan menimbulkan variasi medan EM. Untuk frekuensi di atas 1 Hz variasinya terutama ditimbulkan oleh adanya aktivitas petir yang dapat menimbulkan gelombang EM yang tertahan di antara lapisan ionosfer dan bumi, yang mampu menjalar mengelilingi bumi. Kira-kira seperti itu yang sudah saya baca tentang EM. Sampai pada akhirnya nanti dengan adanya keterkaitan pada fenomena listrik dan magnet dengan sifat kelistrikan (tentunya konduktivitas dan resistivitas) pada medium yang dilewatinya akan menyebabkan data pengukuran EM dapat digunakan untuk memperkirakan distribusi resistivitas di bawah permukaan. Kedalaman jangkauan pada gelombang EM merupakan fungsi dari resistivitas medium dan frekuensi yang sangat dipengaruhi oleh lapisan. 
Pada dasarnya dalam survei menggunakan metode MT itu yang diukur adalah sinyal EM. Pengukurannya tentu saja menggunakan alat khusus, bisa berupa sensor medan magnet berupa koil dan sensor medan listrik berupa elektroda yang dihubungkan ke bumi. Data EM yang diukur akan direkam dalam bentuk time series atau deret waktu. Yang nantinya akan diproses untuk diperoleh data target. Pemrosesan data MT pada dasarnya adalah sebuah usaha analisis spektral untuk memperoleh fungsi transfer antara medan magnet dengan medan listrik dalam bentuk tensor impedansi. Dari impedansi inilah kemudian diolah sedemikian rupa sehingga menjadi informasi mengenai distribusi resisitivitas di bawah permukaan.
Hemm..sepertinya sekian dulu aja yach, semakin rumit tapi bisa dipelajari, besok-besok lagi. Kalau ada yang kurang tepat dibenerin ya.

Tuesday, November 1, 2011

Waw, "Jam 2 Waktu"?

Judul yang membingungkan.. " Jam 2 Waktu". Apa maksudnya ini, dan bagaimana jika memang terjadi jam dua waktu?
Membingungkan, tapi seperti itulah keadaannya ketika saya juga membingungkan maksud berita yang saya baca di sebuah harian internasional.. Singkatnya di sana dikatakan bahwa ada jam dua waktu. Ternyata jam dua waktu ini bisa terealisasikan ketika mekanika kuantum bertemu dengan relativitas umumnya Mbah Einstein. Nah lo..
Hal ini di ungkapkan oleh profesor Caslav Brukner dari Universitas Viene, beliau ini memprakarsai penelitian yang memfokuskan tentang pengukuran waktu gagasan relativitas umum yang di tempatkan pada skala kuantum.
Penyatuan teori mekanika kuantum dengan teori relativitas umum masih memberikan pertanyaan-pertanyaan yang harus di temukan jawabannya dalam dunia fisika modern ini. ketika berbicara tentang relativitas umumnya Mbah Einstein, maka akan berhubungan dengan skala kosmis bintang dan galaksi. Dan ketika berbicara tentang kuantum, maka akan tertuju pada bidang skala atomik dan partikel.
Lalu bagaimana interaksi dari keduanya?
Bagi yang gila sama teorinya, silahkan saja pergi ke sini untuk lebih lagi ilmunya.
Tulisan ini di tulis berdasarkan berita yang saya baca di physorg.

Wednesday, October 26, 2011

Rekor Dunia Pencitraan

Bukan main perkembangan dunia sains, bukan hanya dunia ekstrem yang bisa membuat rekor dunia, baru-baru ini dunia sains juga telah menasbihkan rekor dunia. Kali ini rekor dunia yang baru dibuat adalah rekor dunia dalam bidang pencitraan 3D (3D imaging) pori-pori batuan.
Adalah sekelompok ilmuwan fisika di institut fisika komputasi (institute of computational physics) dari Universitas Stuttgart yang telah membuat sebuah rekor pencitraan 3D pori-pori material. Para ilmuwan ini ternyata telah memberikan hasil termegah dan terpresisi dari pencitraan 3D yang pernah ada, mereka melakukan pencitraan terhadap struktur pori-pori batuan pasir. pencitraan tersebut dihasilkan di dalam sebuah proyek yang bernama the Simulation Technology Cluster of Exellence. Di dalamnya mengandung lebih dari 35 trillion (sebuah angka dengan digit sebanyak 30) voksel, bayangkan 30 digit? kereeen. Hasil tersebut kini memungkinkan untuk penelitian tentang hubungan antara struktur mikro dan propertis fisika dari pori-pori batuan dengan keakuratan yang belum pernah terjadi sebelumnya. 
batuan pasir dan pori-pori batuan, keduanya sangat penting penggunaannya seperti dalam peningkatan pemulihan minyak, penyerapan karbon dioksida atau manajemen air tanah.
Informasi ini semoga dapat memberikan ilmu baru bagi teman-teman. Informasi ini dikeluarkan langsung oleh Universitas Stuttgart, jadi jika ingin mengetahui lebih lanjut, silahkan brows aja ke Universitas Stuttgart.